Pesan Humanis Kombes Susmelawati Rosya: Kesederhanaan adalah Jalan Polri Tetap Dicintai Masyarakat

SUMBAR | Di tengah derasnya arus informasi yang tak lagi mengenal batas, Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol. Susmelawati Rosya, menyampaikan pesan yang terasa hangat namun sarat makna. Ia tidak hanya berbicara soal aturan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan yang kerap terlupakan di tengah gemerlap dunia digital.

Dengan nada yang penuh empati, ia mengajak seluruh anggota Polri untuk kembali mengingat jati diri sebagai pelayan masyarakat. Bukan sekadar menjalankan tugas formal, tetapi menghadirkan sikap yang tulus dalam kehidupan sehari-hari—termasuk dalam setiap jejak yang ditinggalkan di media sosial.

Menurutnya, menjaga marwah institusi tidak berhenti saat seragam dilepas. Justru di luar tugas resmi, di tengah masyarakat, hingga di ruang maya yang terbuka luas, citra Polri sedang diuji. Apa yang terlihat sederhana bagi seseorang, bisa memiliki makna besar bagi orang lain yang melihatnya.

Ia pun mengingatkan dengan cara yang halus namun mengena: hindari memamerkan kemewahan. Bukan semata karena aturan, melainkan karena ada perasaan masyarakat yang perlu dijaga. Dalam realitas sosial yang beragam, sikap pamer dapat memunculkan jarak, bahkan tanpa disadari melukai hati mereka yang tengah berjuang.

Baginya, kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan kekuatan. Dari kesederhanaan itulah tumbuh rasa kedekatan, kepercayaan, dan penghormatan dari masyarakat. Ketika anggota Polri hadir apa adanya, tanpa berlebihan, masyarakat akan merasa lebih dekat dan nyaman.

Fenomena gaya hidup hedonis yang kerap muncul di media sosial juga menjadi sorotannya. Ia menilai, hal tersebut tidak sejalan dengan nilai pengabdian yang melekat pada profesi kepolisian. Anggota Polri diharapkan menjadi teladan, bukan justru menampilkan citra yang berjarak dengan rakyat.

Lebih jauh, ia mengajak seluruh anggota untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Memahami kondisi sosial masyarakat, menjaga empati, dan mampu menempatkan diri secara bijak menjadi hal yang sangat penting, terutama di era yang serba cepat ini.

Tak hanya dalam tindakan nyata, ia menekankan bahwa sikap juga harus tercermin dalam dunia digital. Setiap unggahan, komentar, hingga interaksi di media sosial menjadi cermin pribadi sekaligus representasi institusi.

Penggunaan atribut Polri pun tak luput dari perhatiannya. Ia mengingatkan bahwa atribut bukan sekadar simbol, tetapi membawa nama besar institusi. Karena itu, penggunaannya harus tepat dan sesuai aturan, agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

Kesalahan kecil, jika terjadi di ruang publik, bisa berdampak besar terhadap citra Polri secara keseluruhan. Kepercayaan masyarakat, menurutnya, dibangun dari konsistensi dalam hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari.

Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan ditindak tegas sesuai aturan. Ketegasan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai bentuk komitmen menjaga integritas dan profesionalitas anggota.

Disiplin, lanjutnya, adalah bentuk kecintaan terhadap institusi. Tanpa disiplin, kepercayaan yang telah dibangun dengan susah payah bisa runtuh hanya karena hal yang sebenarnya dapat dihindari.

Ia menyadari bahwa tantangan di era digital semakin kompleks. Informasi menyebar begitu cepat, opini terbentuk dalam hitungan detik, dan kesalahan kecil bisa membesar dalam sekejap. Karena itu, kesadaran diri menjadi benteng utama.

Menutup pesannya, ia mengajak seluruh anggota Polri untuk terus introspeksi, menjaga hati, dan memperbaiki diri. Karena pada akhirnya, yang membuat Polri dihormati bukanlah apa yang terlihat di luar, tetapi ketulusan dalam mengabdi dan kesederhanaan dalam menjalani peran.

Dengan semangat kebersamaan, ia optimistis Polri akan terus hadir sebagai institusi yang dipercaya dan dicintai masyarakat—menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan yang benar-benar dirasakan kehadirannya.

Wyndoee

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *