Dari Fauzi Bahar hingga Fadly Amran, Padang Satukan Kekuatan untuk Kesiapsiagaan Bencana

Padang | Suasana hening menyelimuti Monumen Gempa Padang pada Selasa sore, 30 September 2025. Tepat pukul 17.15 WIB, ratusan orang yang hadir menundukkan kepala, berdoa, dan mengheningkan cipta. Di jam itulah, 16 tahun silam, Kota Padang diguncang gempa dahsyat 7,6 SR yang meruntuhkan ribuan bangunan dan merenggut ribuan nyawa.

Hari itu, Pemerintah Kota Padang bersama masyarakat memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2025. Acara sederhana namun penuh makna ini dimulai dengan doa bersama, lalu dilanjutkan dengan penaburan bunga di depan Monumen Gempa Padang.

Prof. H. Fauzi Bahar Kenang Detik-Detik Kelam

Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika Prof. H. Fauzi Bahar, Wali Kota Padang periode 2004–2014, berdiri di podium. Dengan balutan busana adat Minangkabau, ia kembali mengisahkan detik-detik kelam itu.

“Saya masih ingat jelas, sore itu, Padang runtuh. Tangisan, jeritan, dan kepanikan menyelimuti kota. Tapi di tengah situasi itu, kita belajar arti kebersamaan dan keberanian. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa,” tutur Fauzi Bahar dengan suara bergetar.

Kisah itu membuat banyak hadirin larut dalam keharuan. Beberapa terlihat meneteskan air mata, mengingat sanak saudara dan kerabat yang menjadi korban.

Kehadiran Pemimpin dan Forkopimda
Peringatan ini dibuka oleh Kalaksa BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, yang menegaskan pentingnya peringatan HKB sebagai sarana mengingatkan masyarakat bahwa Padang berada di jalur rawan gempa dan tsunami.

Turut hadir Wali Kota Padang, Fadly Amran, Sekda Kota Padang Andre Algamar, beserta jajaran Forkopimda: Dandim, Kapolresta, Kajari, Danlantamal, dan Danlanud. Para pimpinan daerah itu duduk berdampingan, menunjukkan kebersamaan lintas sektor dalam membangun kesadaran akan mitigasi bencana.

Semangat Relawan dan Generasi Muda
Yang menarik, peringatan HKB kali ini tidak hanya dihadiri pejabat dan tokoh masyarakat. Sejumlah organisasi kepemudaan serta relawan kebencanaan Kota Padang juga hadir dengan penuh semangat.

Barisan anak muda berbaju loreng Laskar Merah Putih (LMP), organisasi masyarakat, hingga komunitas relawan kebencanaan duduk rapi di kursi tamu undangan. Wajah mereka memancarkan semangat baru, seolah ingin menegaskan bahwa tongkat estafet kesiapsiagaan kini berada di tangan generasi muda.

“Kami hadir bukan hanya mengenang, tapi juga belajar. Generasi muda harus siap, karena ancaman bencana bisa datang kapan saja. Semangat relawan adalah semangat menjaga kehidupan,” ujar salah seorang perwakilan relawan yang ikut serta.

Monumen Sebagai Pengingat dan Harapan

Monumen Gempa Padang sore itu kembali menjadi saksi bisu. Tak hanya sebagai tempat peringatan, monumen ini adalah simbol pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja, dan kesiapan menjadi hal mutlak.

Peringatan HKB 2025 bukan hanya nostalgia atas duka 2009, melainkan juga momentum untuk meneguhkan komitmen bersama: pemerintah, aparat, masyarakat, pemuda, hingga relawan, bersatu menghadapi segala kemungkinan bencana di masa depan.

“Kita tidak boleh lengah. Dari duka masa lalu, kita bangun kekuatan untuk masa depan. Semoga dengan semangat kebersamaan ini, Padang selalu siap menghadapi segala ujian alam,” pungkas Wali Kota Padang, Fadly Amran.

Sore itu, doa dan tabur bunga di Monumen Gempa Padang tak hanya menghadirkan kenangan, tapi juga harapan: agar generasi kini lebih tangguh, lebih siap, dan lebih bersatu menghadapi bencana.

Wyndoee

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *