Proyek Rp12 Miliar Jembatan Air Gadang Teluk Kabung Utara Masih Mandek di Pemadatan: Jalan Belum Bisa Dilalui, Warga Harap Bukan Sekadar Proyek Seremonial

Padang, Sumatera Barat | Proyek penggantian Jembatan Air Gadang yang berada di jalur nasional Bukit Putus–Batas Kota Padang, tepatnya di Jl. Padang–Bengkulu, Kelurahan Teluk Kabung Utara, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, saat ini belum juga bisa digunakan oleh masyarakat. Meskipun struktur utama jembatan sudah berdiri, akses jalan masih berupa tanah dan belum masuk tahap pengerasan akhir, bahkan belum aman untuk dilalui kendaraan.

Rilis investigasi ini disusun berdasarkan hasil pantauan lapangan, dokumentasi visual, serta pengumpulan pernyataan dari warga sekitar yang terdampak langsung oleh progres lamban proyek tersebut, Padang Jumat 04 Juli 2025.

Fakta di Lapangan: Jalan Tanah, Material Berserakan, Aktivitas Lambat

Foto dokumentasi tertanggal Sabtu, 28 Juni 2025, menunjukkan kondisi lapangan yang masih jauh dari siap pakai. Tampak alat berat parkir, adukan semen dan batu berserakan, sementara jalan utama menuju jembatan masih berupa tanah merah yang belum dipadatkan secara optimal.

“Masih proses padat, belum bisa dilewati. Kalau dipaksakan bisa rusak semua struktur. Harus sabar,” kata seorang pekerja teknis yang enggan disebutkan namanya.

Warga sekitar juga mengeluhkan bahwa proyek ini terlihat stagnan, meskipun sudah berjalan sejak 30 April 2025, dengan masa pengerjaan 240 hari kalender.

“Sudah lebih dua bulan, tapi yang kelihatan cuma jembatan berdiri. Jalannya masih tanah, alat berat hilir mudik tapi progres lambat,” keluh Fikri, warga Teluk Kabung Utara yang tinggal tak jauh dari lokasi.

Minim Transparansi Teknis: Papan Proyek Tak Jelaskan Rencana Detail

Meski papan proyek tampak lengkap secara administratif — menampilkan nilai proyek Rp12.678.744.000, nama pelaksana PT Arupadhatu Adisesanti, serta konsultan supervisi PT Exxo Gamindo Perkasa KSO–PT Arci Pratama Konsultan — namun tidak ada penjabaran teknis terkait tahapan pekerjaan, penjadwalan target mingguan, atau strategi pengendalian risiko lapangan.

Sejumlah warga mengaku hanya bisa menebak-nebak apa yang sedang terjadi di lokasi karena tidak ada sosialisasi langsung dari pelaksana maupun pengawas.

“Kami tidak tahu apa yang sedang dikerjakan. Tidak pernah ada yang menjelaskan. Kapan bisa dilewati pun tidak jelas,” ujar Sari (40), warga yang sehari-hari harus memutar lewat jalur alternatif yang lebih jauh.

Kualitas Tanpa Uji? Uji Beban dan Mutu Belum Terlihat

Tim investigasi juga tidak menemukan adanya informasi atau aktivitas terkait uji beban struktur atau uji mutu material yang semestinya dilakukan menjelang akhir pengerjaan. Hal ini memunculkan kekhawatiran apakah proyek benar-benar mengikuti spesifikasi teknis dari Kementerian PUPR atau hanya mengejar waktu penyelesaian administratif.

“Ini jalur nasional, truk berat banyak lewat. Jangan asal jadi. Kami minta jembatan ini kuat dan awet. Jangan nanti dua tahun rusak,” tegas Syafri, sopir truk jalur Padang–Muko-Muko.

REKOMENDASI INVESTIGATIF: Demi Mutu dan Kepentingan Publik

Berdasarkan temuan di lapangan dan analisis progres yang minim dalam dua bulan pertama, investigasi ini memberikan beberapa rekomendasi kritis kepada pihak terkait:

1. Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat wajib menyampaikan update progres mingguan ke publik dan menjelaskan hambatan teknis yang terjadi.

2. Konsultan pengawas proyek harus aktif melakukan pengawasan terbuka, tidak sekadar di atas dokumen laporan.

3. Kementerian PUPR melalui inspektorat internal harus mengaudit proyek ini secara menyeluruh—terutama kualitas pemadatan, kekuatan struktur, dan sistem drainase.

4. Masyarakat dan LSM lokal didorong membentuk forum pengawasan mandiri untuk mengawal mutu proyek yang dibiayai dari dana negara ini.

Proyek Ini Strategis, Bukan Sekadar Betonisasi

Jembatan Air Gadang bukan sekadar pengganti konstruksi lama. Ia adalah simpul penting dalam konektivitas lintas Sumatera Barat – Bengkulu – Pesisir Selatan, dan semestinya menjadi simbol transformasi infrastruktur nasional yang berkualitas. Namun, keterlambatan akses, minimnya komunikasi, dan lemahnya pengawasan bisa menjadikan proyek ini sebagai potret buruk manajemen proyek nasional di daerah.

“Kami tidak masalah menunggu, asal hasilnya bagus. Tapi kalau diam-diam molor dan rusak nanti, kami akan kecewa,” ucap Riko (34), warga lainnya.

Investigasi ini akan terus berlanjut. Kami mengundang publik, tokoh masyarakat, dan aparat pengawas untuk bersama-sama memastikan bahwa setiap rupiah dari APBN digunakan secara transparan, akuntabel, dan tepat guna.

Lokasi: Jl. Padang–Bengkulu, Bungus Teluk Kabung, Padang

Tanggal dokumentasi lapangan: Sabtu, 28 Juni 2025

Proyek: Penggantian Jembatan Air Gadang | Nilai: Rp12,6 Miliar | Durasi: 240 Hari

Tim

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *